


BeltimNyamanBekawan.Com | ArtaSariMediaGroup ~ menjaga warisan bumi sekaligus menjadikannya sumber pembelajaran dan kesejahteraan terus diperlihatkan oleh Badan Pengelola (BP) Geopark Belitong.

Menjelang agenda strategis revalidasi UNESCO Global Geopark (UGGp) tahun 2026, BP Geopark Belitong memaparkan serangkaian langkah terukur dan visioner yang berfokus pada peningkatan kualitas tata kelola kawasan sesuai rekomendasi UNESCO.
Upaya ini bukan semata demi mempertahankan status prestisius di level global, melainkan sebagai wujud tanggung jawab kolektif dalam merawat kekayaan geologi, hayati, dan budaya Pulau Belitong secara berkelanjutan.

Pemaparan tersebut mengemuka dalam audiensi bersama Bupati Belitung dan Bupati Belitung Timur (Beltim) terkait Persiapan Revalidasi Belitong UGGp Tahun 2026 yang digelar di Ruang Rapat Bupati Beltim, Jumat (23/01/26) lalu.

Forum ini menjadi ruang konsolidasi lintas pemangku kepentingan, mempertemukan unsur pemerintah daerah, pengelola geopark, dan perwakilan perangkat daerah dalam satu visi besar: menjadikan Geopark Belitong sebagai laboratorium alam terbuka yang edukatif, inklusif, dan berdaya saing global.
Ketua BP Geopark Belitong, Marzuki, menjelaskan bahwa pihaknya saat ini memprioritaskan penguatan fungsi edukasi dan komunikasi publik di seluruh geosite.
Menurutnya, keberhasilan sebuah geopark tidak hanya diukur dari keindahan lanskap atau kelengkapan data ilmiah, tetapi juga dari sejauh mana pesan tentang bumi dan kehidupan dapat dipahami serta menginspirasi pengunjung.
“Kami sedang memperbaiki kualitas panel interpretasi di lapangan agar lebih informatif, menarik, dan menggunakan minimal dua bahasa.

Ini penting agar pesan geologi, budaya, dan lingkungan dapat dipahami semua kalangan, baik wisatawan domestik maupun mancanegara,” jelas Marzuki.
Panel interpretasi, lanjutnya, bukan sekadar papan informasi, melainkan medium edukasi yang menghubungkan sains dengan pengalaman langsung di lapangan.
Dengan narasi yang sederhana namun berbobot, pengunjung diajak memahami proses geologi jutaan tahun, keterkaitannya dengan keanekaragaman hayati, serta peran manusia dalam menjaga keseimbangan alam.
Selain pembenahan di lapangan, BP Geopark Belitong juga menaruh perhatian besar pada pemanfaatan teknologi dan penguatan jejaring internasional.
Di era digital, visibilitas dan keterbukaan informasi menjadi kunci untuk membangun kepercayaan publik sekaligus memperluas dampak edukasi.
“Website resmi, media digital, dan materi publikasi akan terus diperbarui agar selaras dengan standar UNESCO. Selain itu, kami mendorong partisipasi aktif dalam forum geopark dunia untuk memperluas kolaborasi dan pertukaran pengetahuan,” ujar Marzuki.
Langkah ini mencerminkan semangat inovatif dalam pengelolaan geopark, di mana teknologi dimanfaatkan sebagai jembatan antara ilmu pengetahuan, pariwisata berkelanjutan, dan diplomasi budaya.
Melalui jejaring global, Geopark Belitong tidak hanya belajar dari praktik terbaik geopark lain di dunia, tetapi juga berkontribusi memperkaya diskursus internasional tentang pelestarian warisan bumi.
Dari sisi pemerintah daerah, dukungan penuh juga ditegaskan oleh Bupati Belitung Timur, Kamarudin Muten. Ia menekankan pentingnya koordinasi lintas sektor agar seluruh rekomendasi UNESCO dapat ditindaklanjuti secara sistematis dan terukur.
“Kami mendorong pembentukan tim percepatan revalidasi yang melibatkan pemerintah, akademisi, komunitas, dan pelaku usaha. Dengan kolaborasi ini, setiap rekomendasi UNESCO dapat diterjemahkan menjadi program nyata dengan indikator yang jelas,” ujarnya.
Menurut Kamarudin, geopark adalah ekosistem kolaboratif yang menuntut keterlibatan semua pihak. Pemerintah berperan sebagai fasilitator dan regulator, akademisi sebagai penyedia basis ilmiah, komunitas sebagai penjaga nilai lokal, dan pelaku usaha sebagai penggerak ekonomi berkelanjutan.
Lebih jauh, ia juga menekankan bahwa kekuatan utama geopark terletak pada dukungan dan partisipasi masyarakat. Tanpa keterlibatan warga, geopark berisiko menjadi konsep elitis yang jauh dari kehidupan sehari-hari.
“Geopark tidak akan kuat tanpa dukungan masyarakat. Karena itu, edukasi di sekolah, pemberdayaan desa wisata, serta keterlibatan UMKM akan terus kami dorong agar manfaat geopark benar-benar dirasakan secara luas,” pungkas Kamarudin.
Pernyataan ini menegaskan orientasi sosial dari pengelolaan Geopark Belitong. Geopark bukan hanya destinasi wisata, melainkan ruang belajar bersama yang mendorong tumbuhnya kesadaran lingkungan, kebanggaan lokal, dan peluang ekonomi berbasis potensi daerah.
Komitmen daerah tersebut diperkuat oleh dukungan Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel). Melalui UPTD Balai Pengembangan Pariwisata Wilayah Belitung, pemerintah provinsi menyiapkan intervensi infrastruktur di sejumlah geosite Belitong UNESCO Global Geopark sebagai bagian integral dari persiapan revalidasi 2026.
Kepala UPTD Balai Pengembangan Pariwisata Wilayah Belitung, Apri Juliansyah, menyampaikan bahwa dukungan terhadap geopark telah ditetapkan sebagai program unggulan dan prioritas Gubernur Babel. Oleh karena itu, implementasinya dilakukan secara lintas sektor agar lebih efektif dan berkelanjutan.
“Geopark Pulau Belitong sudah masuk dalam program unggulan dan prioritas Gubernur. Karena itu intervensinya tidak hanya dari sektor pariwisata, tetapi juga lintas OPD agar persiapan revalidasi berjalan lebih rapi dan terarah pada 2026,” jelas Apri.
Ia mengungkapkan bahwa sejak 2025, pihaknya telah mengalokasikan anggaran khusus untuk mendukung promosi geopark. Sebesar Rp223 juta dialokasikan untuk produksi video promosi Geopark Pulau Belitong beserta materi pendukungnya, sebagai bagian dari strategi penguatan visibilitas di tingkat nasional dan internasional.
Promosi ini tidak semata menjual keindahan visual, tetapi juga mengangkat narasi edukatif tentang keterkaitan geologi, budaya, dan kehidupan masyarakat lokal. Dengan demikian, citra Geopark Belitong dibangun sebagai destinasi wisata berkelanjutan yang sarat nilai.
Memasuki tahun 2026, fokus dukungan diarahkan pada pemenuhan rekomendasi evaluator UNESCO, khususnya terkait integrasi warisan geologi, hayati, dan budaya dalam satu narasi interpretasi yang utuh.
Untuk itu, Pemerintah Provinsi Babel menganggarkan Rp391 juta untuk kajian interpretasi bekerja sama dengan Pusat Pengembangan Pariwisata Institut Teknologi Bandung (ITB).
“Kajian ini akan menjadi dasar penyusunan media interpretasi di sejumlah geosite, sehingga pesan yang disampaikan memiliki landasan ilmiah yang kuat sekaligus mudah dipahami publik,” jelas Apri.
Selain sektor pariwisata, intervensi signifikan juga datang dari dukungan infrastruktur melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Provinsi.
Total dukungan infrastruktur yang disiapkan mencapai sekitar Rp1,5 miliar, difokuskan pada geosite yang menjadi lokus rekomendasi revalidasi.
“Di Kabupaten Belitung Timur, pekerjaan akan dilakukan di Open Pit Nam Salu, Gunung Lumut, dan Tebat Rasau. Intervensi ini mencakup peningkatan aksesibilitas, penataan kawasan, dan fasilitas pendukung pengunjung,” sebut Apri.
Ia menegaskan bahwa seluruh intervensi tersebut dirancang bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan penilaian ulang UNESCO, tetapi untuk memastikan keberlanjutan pengelolaan geopark dalam jangka panjang.
“Fokus kami adalah memastikan infrastruktur dasar, sarana interpretasi, dan kenyamanan pengunjung di geosite benar-benar siap. Ini bukan hanya untuk revalidasi, tetapi untuk keberlanjutan pengelolaan geopark ke depan,” tutupnya.
Dengan sinergi yang terbangun antara BP Geopark, pemerintah kabupaten, dan pemerintah provinsi, Geopark Belitong menunjukkan keseriusan dalam menjawab tantangan global pengelolaan warisan bumi.
Revalidasi UNESCO Global Geopark 2026 dipandang bukan sebagai beban administratif, melainkan momentum refleksi dan peningkatan kualitas.
Lebih dari itu, proses ini menjadi inspirasi bagi daerah lain di Indonesia bahwa pengelolaan geopark yang baik memerlukan visi jangka panjang, kolaborasi lintas sektor, inovasi berkelanjutan, serta keberpihakan pada masyarakat.
Di tengah tantangan perubahan iklim dan degradasi lingkungan, Geopark Belitong hadir sebagai contoh nyata bagaimana pelestarian alam dapat berjalan seiring dengan edukasi, ekonomi, dan pembangunan berkelanjutan.
Dengan langkah-langkah strategis yang terus dimatangkan, Belitong menatap revalidasi UNESCO 2026 dengan optimisme dan keyakinan.
Tidak hanya untuk mempertahankan pengakuan dunia, tetapi untuk memastikan bahwa warisan geologi Pulau Belitong tetap lestari, bermakna, dan memberi inspirasi bagi generasi kini dan mendatang. | BeltimNyamanBekawan.Com | */Redaksi | *** |



1 week ago
ok