


BeltimNyamanBekawan.Com | ArtaSariMediaGroup ~ Pagi itu, Simpang Pelangai terasa lebih hening dari biasanya. Langit tampak bersahabat, angin berembus pelan, seolah turut memberi ruang bagi doa-doa yang mengalir dari hati orang-orang yang hadir.

Di tempat inilah, Young Syefura Othman melangkahkan kaki untuk menemani perjalanan terakhir sosok yang sangat ia cintai, Allahyarhamah Norhaizan Abu Hassan—atau yang lebih dikenal dengan panggilan penuh kasih, Guru Enab.
Kepergian Guru Enab bukan sekadar peristiwa duka personal, melainkan momen perenungan bersama tentang makna hidup, pengabdian, dan nilai kebaikan yang terus hidup meski raga telah tiada. Pagi itu, Simpang Pelangai menjadi saksi bisu pertemuan antara air mata, doa, dan kenangan yang tak lekang oleh waktu.

Duka yang Dibingkai Keindahan Spiritual

Suasana di Simpang Pelangai pagi itu terasakan sangat indah dalam kesederhanaannya. Tidak ada kemewahan, tidak pula hiruk-pikuk. Yang ada hanyalah ketulusan orang-orang yang datang, satu per satu, dengan wajah penuh hormat dan hati yang berdoa.
“Suasana yang sangat indah, dipenuhi dengan doa-doa dan kehadiran orang-orang yang pernah mengenal dan mencintai allahyarhamah,” tutur Young Syefura Othman dengan suara lirih, menggambarkan suasana batin yang ia rasakan.
Orang-orang yang hadir datang dari berbagai latar belakang. Ada keluarga, sahabat lama, murid-murid, dan masyarakat yang pernah disentuh oleh kebaikan Guru Enab. Kehadiran mereka bukan sekadar formalitas, melainkan bukti bahwa almarhumah telah menanamkan nilai kemanusiaan yang berakar kuat di hati banyak orang.
Guru Enab, Sosok Pendidik yang Menjadi Teladan

Norhaizan Abu Hassan, atau Guru Enab, dikenal sebagai sosok pendidik yang tidak hanya mengajarkan ilmu, tetapi juga menanamkan nilai kehidupan. Bagi murid-muridnya,
ia adalah guru yang sabar, tegas namun penuh kasih. Bagi lingkungan sekitarnya, ia adalah pribadi yang rendah hati, mudah menolong, dan tidak pernah lelah berbagi kebaikan.
Dalam dunia pendidikan, Guru Enab meyakini bahwa tugas seorang guru bukan sekadar menyampaikan materi pelajaran, melainkan membentuk karakter dan akhlak. Prinsip ini ia jalani dengan konsisten, bahkan ketika tantangan zaman terus berubah.
Keteladanan semacam inilah yang membuat kepergian Guru Enab meninggalkan ruang kosong yang sulit tergantikan. Namun, di saat yang sama, warisan nilainya justru semakin terasa hidup.
Kesaksian Personal yang Menjadi Cermin Publik
Bagi Young Syefura Othman, perjalanan ke Simpang Pelangai pagi itu adalah perjalanan penuh makna. Ia tidak hanya melepas kepergian orang tercinta, tetapi juga merekam kembali jejak kebaikan yang pernah ia saksikan secara langsung.
“Semua amal kebaikan dan kenangan bersama almarhum akan selalu tersimpan dalam ingatanku,” ungkapnya. Pernyataan ini mencerminkan bagaimana hubungan personal dapat menjelma menjadi refleksi publik tentang arti keteladanan.
Dalam konteks kehidupan sosial, kehilangan sosok seperti Guru Enab mengingatkan bahwa kontribusi seseorang tidak selalu diukur dari jabatan atau popularitas, melainkan dari dampak nyata yang ia tinggalkan dalam kehidupan orang lain.
Amal Jariyah yang Tak Terputus
Dalam keyakinan umat Islam, wafatnya seseorang tidak memutus seluruh amalnya. Ilmu yang bermanfaat, anak saleh yang mendoakan, serta amal jariyah menjadi bekal yang terus mengalir. Pada diri Guru Enab, ketiganya seolah berpadu.
Ilmu yang ia ajarkan telah tumbuh menjadi pengetahuan dan karakter pada murid-muridnya. Kebaikan yang ia tanamkan menjelma menjadi sikap dan perilaku yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Doa-doa yang dipanjatkan pagi itu menjadi pengikat antara dunia yang ditinggalkan dan akhirat yang dituju.
“Semoga roh allahyarhamah dicucuri rahmat, diampuni segala dosa dan ditempatkan di kalangan orang-orang yang beriman,” ucap Young Syefura, mengamini doa yang sama yang dipanjatkan oleh semua yang hadir.
Duka yang Mendidik tentang Kefanaan
Peristiwa di Simpang Pelangai bukan hanya tentang kehilangan, tetapi juga tentang pelajaran hidup. Kematian, dalam perspektif ini, menjadi pengingat bahwa setiap manusia memiliki batas waktu. Yang tersisa bukanlah harta atau jabatan, melainkan jejak kebaikan.
Bagi generasi muda, kisah Guru Enab adalah pelajaran nyata bahwa pengabdian yang tulus akan selalu menemukan jalannya untuk dikenang. Di tengah dunia yang semakin kompetitif dan individualistis, nilai-nilai kesederhanaan dan keikhlasan menjadi semakin relevan.
Kehadiran Komunitas sebagai Bukti Cinta
Salah satu pemandangan yang paling menyentuh adalah kehadiran banyak orang yang mungkin tidak memiliki hubungan darah dengan almarhumah, tetapi merasa kehilangan yang sama. Hal ini menunjukkan bahwa Guru Enab telah membangun relasi yang melampaui batas formal.
Kehadiran komunitas dalam perjalanan terakhir ini mencerminkan kuatnya ikatan sosial yang dibangun melalui kebaikan. Di tengah tantangan sosial yang kerap memecah belah, peristiwa ini justru menunjukkan bahwa nilai kemanusiaan masih menjadi perekat yang ampuh.
Pendidikan sebagai Warisan Peradaban
Dalam skala yang lebih luas, kepergian Guru Enab mengingatkan pentingnya menghargai peran guru dalam membangun peradaban. Guru bukan sekadar profesi, melainkan panggilan hidup. Dari tangan merekalah lahir generasi yang akan menentukan arah masa depan bangsa.
Keteladanan Guru Enab menjadi bukti bahwa perubahan besar sering kali berawal dari ruang-ruang kecil: ruang kelas, percakapan sederhana, dan perhatian tulus kepada sesama.
Refleksi bagi Kehidupan Publik
Narasi duka ini juga menjadi refleksi bagi kehidupan publik. Di tengah dinamika sosial dan politik yang kerap diwarnai perdebatan, kisah tentang kebaikan personal mengingatkan bahwa nilai-nilai kemanusiaan harus tetap menjadi fondasi.
Kehidupan yang bermakna tidak selalu ditentukan oleh sorotan publik, tetapi oleh seberapa besar kita memberi manfaat bagi orang lain. Guru Enab telah menunjukkan hal itu dengan caranya sendiri.
Doa dan Harapan yang Menyatu
Pembacaan Al-Fatihah yang mengiringi kepergian Guru Enab bukan sekadar ritual, melainkan simbol penyerahan dan harapan. Harapan bahwa segala amal baik diterima, segala khilaf diampuni, dan segala cinta yang ditinggalkan menjadi cahaya bagi yang masih hidup.
“Alfatihah buat ibu Norhaizan Binti Abu Hassan,” ucap Young Syefura dengan penuh ketulusan, menutup rangkaian perpisahan pagi itu.
Jejak yang Tak Pernah Hilang
Pagi di Simpang Pelangai akan berlalu, begitu pula langkah-langkah yang mengantar perjalanan terakhir Guru Enab. Namun, jejak kebaikan yang ia tinggalkan tidak akan pernah benar-benar hilang. Ia hidup dalam kenangan, doa, dan nilai-nilai yang terus diwariskan.
Kisah ini menjadi pengingat bagi kita semua bahwa hidup yang dijalani dengan keikhlasan akan selalu menemukan jalannya untuk dikenang. Guru Enab telah berpulang, tetapi teladannya tetap tinggal, mengajarkan bahwa kebaikan, sekecil apa pun, memiliki daya hidup yang abadi.
Semoga Allah SWT mencurahkan rahmat-Nya kepada Allahyarhamah Norhaizan Abu Hassan, mengampuni segala dosa, dan menempatkannya di sisi-Nya bersama orang-orang yang beriman. Al-Fatihah. | BeltimNyamanBekawan.Com | */Redaksi | *** |



3 week ago
oke